April 23, 2012

MEMIMPIN, MEMBUAT PELANGI


Pemimpin harus bisa bekerja sama dengan anggota yang berasal dari berbagai komponen. Baik itu berbeda suku / ras, agama, latar belakang pedidikan dan terlebih lagi berbeda persepsi. Tujuan dari kerjasama adalah  pemimpin dapat menghentarkan semua pengikutnya pada satu tujuan yang disepakati bersama yaitu yang menjadi visi bersama.

Visi ini mungkin berasal dari visi pribadi pemimpin, namun dengan ketrampilan mentransfer visinya (baca artikel mengajarkan visi) pemimpin harus mampu mempropaganda pengikutnya mengikuti visinya.

Ini tidaklah mudah. Saya percaya bahwa tak ada manusia di kolong langit ini persis sama satu dengan lainnya. Sekalipun mereka adalah kembar siam. Setiap manusia unik dengan pemikirannya dan seluruh keberadaannya. Tantangan pemimpin ialah bukan menjadikan berbagai warna pengikut menjadi satu warna yaitu warna pemimpin tetapi mengharmonikan semua warna pemimpin tersebut menjadi harmoni satu dengan lainnya, akhirnya dapat terlihat sebagai pelangi dimana setiap warna memainkan fungsi unik sesuai dengan keunikannya.

Akhirnya saya ucapkan selamat memimpin; selamat membuat pelangi.

MEMIMPIN, MEMBUAT PELANGI
http://kepemimpinan.wordpress.com

Kue Kesukaanku Mengajariku Sesuatu Hari Itu



detail_img
















Sebelum pesawatku lepas landas, aku membeli kue kesukaanku. Sambil menunggu jam keberangkatan, aku ingin memakannya sambil membaca buku kesukaanku. Aku duduk di kursi tunggu di bandara pada hari itu dan mulai tenggelam dalam buku bacaanku.

Sewaktu mataku lepas dari buku bacaan, aku melihat seorang pria duduk di depanku. Aku pun melihatnya mengambil kue, kue yang aku beli tadi! Aku pun mencoba mengabaikan dia, karena aku tidak ingin terjadi keributan. Tapi, aku tidak bisa lagi konsen pada bacaanku. Si Pencuri Kue itu dengan beraninya mengambil lagi kueku.

Setiap kali aku mengambil satu kue, si lelaki itu juga mengambil satu. Aku pun semakin kesal. “Ingin rasanya kutampar lelaki kurang ajar ini, yang begitu beraninya mengambil kueku.” kataku dalam hati. Ketika hanya satu kue tersisa, aku pun bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.
Dengan senyum tawa di wajahnya yang gugup, lelaki itu mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Dia mengambil separuhnya dan menawarkan kue separuh lagi kepadaku. Aku pun merebutnya dengan kasar. “Ya ampun, berani sekali orang ini…”

Lelaki itu benar-benar membuatku kesal. Aku pun mencoba untuk merelakan kueku diambil oleh lelaki itu apalagi jadwal penerbanganku sudah diumumkan. Aku taruh bukuku begitu saja di dalam tas dan aku pun melenggang menuju pintu keberangkatan. Aku tidak menoleh sedikitpun pada si pencuri tersebut.

Di dalam pesawat, ketika aku sudah duduk dengan nyaman, aku pun hendak membaca lagi buku yang tadi hampir selesai kubaca. Saat aku merogoh tasku, aku begitu kaget! Di situ ada kantong kue yang kubeli lengkap dengan isinya, di dalam tasku. Kok bisa? Tanyaku dalam hati. Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan dia malah mau berbagi denganku. Aku sudah begitu kasar padanya. Tapi kalaupun mau minta maaf, rasanya sudah terlambat. Pesawatku sudah lepas landas.

Dari kejadian itulah aku belajar untuk tidak cepat melihat kesalahan orang lain. Kadang aku begitu buta sehingga tidak melihat kesalahanku sendiri. Dari kejadian itu juga aku belajar untuk tidak cepat menghakimi seseorang tapi lebih sering menginstropeksi diri sendiri. Aku tidak mau lagi menjadi pencuri kue kemudian menimpakan kesalahanku pada orang lain. Mulai hari itu, aku berbagi kepada siapa pun kue yang kubeli. Kue kesukaanku pun bisa memberikan pelajaran yang berharga buatku.

Sumber : iniunik.web.id by lois horiyanti/jawaban.com

Mengajarkan Visi



Pemimpin bukan saja harus memiliki visi tetapi ia juga harus bisa mengajarkan visinya kepada pengikutnya; mengajarkan misinya dan juga mengajarkan langkah2 pencapaian visi tersebut.

Jadi seorang pemimpin harus bertindak sebagai pemimpin dan juga sebagai guru terhadap pengikutnya.

Kegagalan para pemimpin dengan visi megah mereka ialah mereka tak bisa mentransfer visi mereka; penyebabnya sangat bervariatif.
1. Kurangnya skill komunikasi.
2. Kurangnya skill mengajar.
3. Tidak menguasai detail visinya yang tercantum didalam misinya.
4. Tidak setia mencapai visinya.

April 21, 2012

Pemimpin Otoriter


Tipe pemimpin yang visioner tetapi otoriter.

Pemimpin jenis ini memiliki kekuatan visi dan keinginan yang kuat untuk menggapai visi itu. Para pengikutnya cenderung terinspirasi dengan visinya dan rela berkorban demi pencapaian visi tersebut. Namun satu hal mendastan miliar yang menjadi kelemahan ialah ia menggunakan kekuatan fisik untuk mencapai visinya.

Di negara-negara yang dikuasai militer, para pemimpin yang represif akan menggunakan kekuatan militer untuk mengendalikan lawan politik mereka juga pengikut mereka untuk mengikuti visi mereka
Kuba dengan president Fidel Castro,
Korea Utara; Kim Jung Ill II
Thailand; kekuatan sebenarnya berada di tangan raja karena raja berkuasa atas militer.
Kamboja; perdana mentri membelanjakan sangat banyak uang untuk meningkatkan kekuatan militernya sehingga para perwira militer yang ikut memakan uang hasil korupsinya terus mendukungnya.
China; dibawah pemerintahan partai komunis mereka telah membangun kekuatan militer yang mengancam kekuasaan negara adidaya Amerika Serikat dan Rusia.

Tidak semua pemimpin otoriter, tetapi semua pemimpin pasti memiliki visi.
Pemimpin otoriter adalah pemimpin yang tidak memiliki kemampuan mengkomunikasikan visinya kepada bawahannya. Sehingga ia harus memaksa pemimpinnya untuk mengikutinya dan melaksanakan semua peritahnya untuk mencapai visinnya.

http:/kepemimpinan.wordpress.com

April 12, 2012

Membantu Orang Susah

Sungguh terharu saya membaca kisah Lanra (70), pria asal Dusun Bontolenre, Desa Watangpalakka, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, yang ditelantarkan di tengah kebun akibat seluruh tubuhnya ditumbuhi kutil.

Inilah potret keseharian bangsa Indonesia. Tantanan hidup sosial yang dipisah-pisahkan telah menjadi sebuah budaya ditengah masyarakat. Fakta bahwa banyak orang susah danmiskin secara materi memang tak bisa di pungkiri lagi. Namun yang paling menyedihkan ialah pernyataan para pejabat negri yang seringkali menyangkutpautkan program-program pemerintah dengan keberadaan saudar-saudara kita yang kurang mampu itu.

Kondisi ekonomi yang berada di bawah standart rata2 ekonomi nasional telah manjadikan mereka sebagai objek politisasi demi mempertahankan tampuk kekuasaan yang korup. Aksi dan suara para tokoh nasional yang pro rakyat bukan tak terdengar lagi tetapi telah menjadi angin lalu ditelinga pemerintah; "berikan modal kerja, galakkan industri kecil, jangan memberitakan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang akan habis dalam 2 minggu. Berikan umpan jangan ikannya"

Pemerintah lebih mencintai kekuasaan politiknya daripada kesejahteraan rakyat.

Pembaca Kompas adalah segelintir orang yang peduli pada sesamanya rakyat Indonesia yang kurang mampu.

Simak beritanya;


BONE, KOMPAS.com — Setelah Kompas.com menulis kisah Lanra (70), pria asal Dusun Bontolenre, Desa Watangpalakka, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, yang ditelantarkan di tengah kebun akibat seluruh tubuhnya ditumbuhi kutil, banyak pembaca berniat membantunya.

Setelah sebelumnya mendapat sumbangan dari pembaca, kini untuk kedua kalinya lansia yang hidup sendiri itu kembali mendapat santunan senilai dua juta rupiah dari pembaca Kompas.com. Saat uang Rp 2.000.000 tersebut diserahkan kepada Lanra pada Kamis (12/04/2012), kakek ini langsung gemetaran dan terduduk di kubangan yang ada di depan gubuk berukuran 2 x 3 meternya.

Karena gemetar, uang yang disampaikan kepadanya sempat terjatuh sehingga sejumlah warga yang turut menyaksikan pemberian bantuan tersebut membantu memungut uang.

"Kenapa banyak sekali kalau dua juta, yang dulu saja belum habis saya belanja," ujar Lanra memperlihatkan beras dua karung yang dibelinya setelah mendapatkan sumbangan pertama dari pembaca sebesar Rp 500.000.

Saat beberapa orang bertanya akan diapakan uang sumbangan tersebut, Lanra segera memasuki gubuknya, mengambil baju dan berniat ke puskesmas untuk melakukan pengobatan. "Saya mau pergi suntik di dokter," ujar Lanra kepada warga.

TERIMA KASIH KOMPAS. Terimakasih Indonesia! Jayalah Ibu Pertiwi

Sikap Seorang Penginjil.

Saya sedang menulis sebuah buku tentang Sikap Seorang Penginjil.


Penginjil berhubungan erat dengan Injil, Seorang pembawa kabar berhubungan erat dengan kabar yang dibawanya. Karena itu Injil adalah sebuah berita penting. Terjemahan sederhananya ialah Injil adalah sebuah kabar baik. Sebuah kabar baik bagi mereka yang sedih, bagi mereka yang putus asa, bagi mereka yang pesimis, bagi mereka yang kehilangan, bagi mereka yang terpenjara, bagi mereka yang tersingkir. Injil adalah Kabar keselamatan. Keselamatan dalam kehidupan ini yaitu keselamatan dari situasi yang tak berpengharapan berganti kepada situasi yang berpengharapan.

Injil juga adalah kabar keselamatan bagi kehidupan yang akan datang. Ada kehidupan setelah kematian; inilah fakta yang tak dapat ditolak oleh siapapun di dunia ini. Bahwa Atheispun didalam penolakannya mereka mengakui keberadaan Allah, karena mereka percaya bahwa Allah ada makanya mereka menolak Dia, jikalau Allah tidak ada maka tidak perlu ada penolakan bukan?

Jadi Injil adalah kabar baik yang menyangkut seluruh eksistensi kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Karena kapasitas yang sungguh dasyat dan luar biasa itu maka keberadaan penginjil merupakan suatu keberadaan yang juga berpengaruh terhadap penyampaian Injil tersebut.

Kontrasnya begini: tak mungkin kita menyurus seorang penjahat menyampaikan kabar baik, karena sulit bagi pendengar untuk percaya pemberitaan sang Penginjil. Disamping itu Injil bukanlah sebuah kabar sederhana, Ia adalah kabar yang mempengaruhi manusia menuju kepada suatu transformasi. Tentunya seorang yang belum ditransformasi hidupnya tak dapat memberitakan Injil, ia tak bersyarat untuk menjadi Penginjil. Kita tidak dapat menyebutnya Penginjil bukan?

Di buku yang saya tulis tersebut; Saya mengajak pembaca untuk melihat kepentingan-kepentingan Injil didalam kehidupan seorang Penginjil bahwa Ia menjadi tidak berkuasa apabila kehidupan si penginjil tersebut tidak seturut dengan apa yang hendak Ia nyatakan.

Saya mengajak pembaca untuk melihat lebih kedalam lagi sikap-sikap para penginjil yaitu mereka yang sudah di transformasi, ternyata masih terdapat kepentingan-kepetingan dihati mereka saat mereka membawa Injil. Kepentingan-kepentingan yang ditandai dengan motivasi tersebut membuat berita Injil / kabar baik menjadi tidak relevan dengan kebutuhan pendengar.

Untuk detailnya; tunggu saja terbitnya buku tersebut.

Sikap Seorang Penginjil ,oleh Akhim B. Kupeilang.

back to Google Ad sense

Setelah sekian lama berselancar di Internet; mencari-cari informasi tentang bisnis online akhirnya saya kembali ke blogger google.

Semua website yang saya kunjungi tidak memberi kepercayaan yang cukup untuk bekerjsama dengan mereka.
Google Ad sense is still the best.

Kebutuhan akan uang sebagai seorang Pembuat Kemah telah memotivasi saya untuk mengembangkan kebiasaan online ini.

Semoga Tuhan menolong saya. Amin!

Followers

Artikel Terpopuler